Langsung ke konten utama

Dimensi Metrik Pada Graf Lollipop, Graf Mongolian Tent, dan Graf Generalized Jahangir

Berikut ini adalah abstrak atau kutipan dari jurnal ilmiah (english) berbayar/ tesis/skripsi/artikel yang dapat Anda miliki secara utuh (full paper) dengan menghubungi admin ~~

judul: Dimensi Metrik Pada Graf Lollipop, Graf Mongolian Tent, dan Graf Generalized Jahangir



Misal G adalah graf dengan himpunan vertex V (G) dan himpunan edge E(G). Jarak d(u, v) antara vertex u dan v di G adalah panjang lintasan terpendek dari u ke v. Himpunan vertex S disebut himpunan pembeda dari graf G jika setiap vertex pada G memiliki jarak yang berbeda terhadap vertex di S. Dimensi metrik pada graf G adalah kardinalitas minimum dari himpunan pembeda. Graf lollipop Lm;n untuk m ≥ 3 adalah graf yang diperoleh dengan
menggabungkan graf complete Km dan path Pn oleh sebuah bridge. Graf Mo- ngolian tent Mm;n adalah graf yang memuat Pm × Pn, n bilangan ganjil, dan menambahkan satu vertex di atas grid kemudian menggabungkan setiap vertex pada baris pertama dari Pm×Pn ke vertex tersebut. Graf generalized Jahangir

Jm;n untuk n ≥ 3 adalah graf dengan mn + 1 vertex yang terdiri dari cycle Cmn dengan satu vertex tambahan yang adjacent ke n vertex pada Cmn dan berjarak m satu sama lain pada Cmn. Pada penelitian ini ditentukan dimensi
metrik pada graf lollipop, graf Mongolian tent, dan graf generalized Jahangir. Hasil penelitian menyatakan bahwa dimensi metrik pada graf lollipop adalah m − 1. Dimensi metrik pada graf Mongolian tent untuk n = 3, 5 adalah 3; dimensi metrik pada graf Mongolian tent untuk n = 7, 9 adalah ⌊n2⌋; dan dimensi metrik pada graf Mongolian tent untuk n ≥ 11 adalah ⌊n2⌋ − 1. Sedangkan dimensi metrik pada graf generalized Jahangir adalah ⌊n2⌋ untuk
m = 3, ⌊2n+23⌋ untuk m genap, dan ⌈n2⌉ untuk m ganjil.

Kata kunci: dimensi metrik, himpunan pembeda, graf lollipop, graf Mongolian tent, graf generalized Jahangir

Komentar

advertisement

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Kurikulum Indonesia tahun 1952

ZonaSainsKita~ Kurikulum 1952 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1947, dimana kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran.Karena itu, kurikulum 1952 lebih dikenal sebagai  Rencana Pelajaran Terurai 1952 . Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional.Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pendekatan kontekstual dalam pembelajaran sudah digunakan pada masa tersebut. Lahirnya kurikulum 1952 tidak terlepas dari sejarah kelahiran Kurikulum 1947.Bahkan dapat dikatakan bahwa Kurikulum 1952 adalah pembaharuan dari Kurikulum 1947.Dikatakan demikian karena saat kurikulum 1947 berlaku belum ada undang-undang pendidikan yang berlaku sebagai landasan operasionalnya.Hal ini terjadi sampai tahun 1949.Baru setelah tahun 1950 undang-undang pendidikan yang dikenal dengan Undan...

APLIKASI TEORI SKINNER TERHADAP PEMBELAJARAN

Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: –      Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis. –      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat. –      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. –      Materi pelajaran digunakan sistem modul. –      Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic. –      Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri. –      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman. –      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum. –      Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah. –  ...

SEJARAH MUNCULNYA TEORI KONDISIONING OPERAN B.F SKINNER

Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. pada waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat  pada pelaksanaan penelitian. Istilah-istilah seperti cues (pengisyratan), purposive behavior (tingkah laku purposive) dan drive stimuli (stimulus dorongan) dikemukakan untuk menunjukkan daya suatu stimulus untuk memunculkan atau memicu suatu respon tertentu. Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon n...